Akhir
kehidupan manusia, adalah warisan dari paham atau kebiasaan masa
lalunya. Siapa pun yang meyakini suatu ideologi, dan tradisi kebiasaan
niscaya dia akan mati di atas kebiasaan tersebut. Dan siapa yang mati di
atas suatu kondisi, maka akan dibangkitkan di akhirat kelak di atas
kondisi itu.
Apakah seseorang akan memilih jalan hidup yang benar
atau sesat, membela al-haq atau al-bathil, memperjuangkan tegaknya
syari’at Islam atau demokrasi, sekularisme, komunisme dan semacamnya,
adalah pilihan bukan paksaan. Semua itu, kelak akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt, dan menjadi barometer di
akhirat, apakah seseorang akan bernasib baik dan masuk surga ataukah
sebaliknya menjadi mangsa api neraka.
Allah Rabbul Alamin berfirman:
“Kamilah
yang menghidupkan yang mati. Kamilah yang mencatat setiap perbuatan
yang telah dilakukan oleh manusia dan pengaruh baik atau buruk dari
perbuatan itu sepeninggalnya. Semuanya itu Kami catat dengan teliti pada
buku catatan amal yang mudah dibaca oleh pelakunya kelak di akhirat.” (Qs. Yasin [36]:12)
Begitulah,
suratan takdir Ilahy tak bisa diprediksi. Adalah seorang mujahid, putra
dari seorang mujahid, bernama Ridwan Abdul Hayyie, lahir pada tanggal
16 Juni 1993. Setahun setelah menamatkan pelajarannya di Pesantren
Tahfidzul Qur’an ‘Isykarima’ Karangpandan, Solo, dia berangkat ke medan
jihad Suriah sebagai relawan kemanusiaan Majelis Mujahidin.
Bersama
9 orang temannya, pada pertengahan Juli 2014, Ridwan menginjakkan kaki
di Bumi Jihad Syam. Selama di sana, hari-hari jihad dilalui bersama
pengungsi di Idlib, di saat lain mereka ribath dan bertempur melawan
pasukan tentara rezim Syi’ah Nushairiyah pimpinan Bashar Asad.
Sudah
menjadi sunatullah, bahwa orang yang berjuang membela agama Allah, ada
kalanya mati sebelum berhasil meraih cita-citanya. Sedang sebagian
lainnya dapat menikmati hasil perjuangannya dengan kemenangan Islam.
Di
antara mereka ada yang diuji dengan penjara, bahkan hidupnya berakhir
di atas tiang gantungan atau di tembak peluru tajam. Ada pula yang gugur
sebagai syuhada, ada yang masih bertempur, dan ada pula yang masih
hidup meneruskan jihadnya.
Keadaan mereka digambarkan dalam firman Allah Swt:
“Ada
sejumlah orang mukmin yang benar-benar jujur dalam berjanji kepada
Allah. Di antara mereka ada yang mati di medan perang dan ada yang
menantikan kematian dalam berperang. Orang-orang mukmin itu tidak mau
melanggar janjinya kepada Allah sedikit pun.
Allah akan
memberikan pahala besar kepada orang-orang yang memenuhi janji mereka
dengan benar. Allah akan menyiksa orang-orang munafik sesuai
kehendak-Nya atau Allah akan mengampuni mereka. Sungguh Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya”.
(Qs. Al-Ahzab [33]:23-24)
RIdwan
Abdul Hayyie, putra ke 6 Ustadz Abu Muhammad Jibriel sewaktu pertama
kali bergabung bersama Mujahidin, semoga Allah merahmatinya.
Maka pada hari Kamis, 26 Maret 2015,
dalam suatu pertempuran dengan tentara Bashar Asad di Provinsi Idlib,
Suriah Timur. Di bawah hujan peluru, para mujahid dengan perkasa terus
maju melawan dengan senjata dan bom, membunuh atau terbunuh. Salah
seorang mujahid di garis terdepan, terlihat pantang mundur, sambil
melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dia mengarahkan senjatanya pada musuh.
Nampaknya,
dialah Ridwan Abdul Hayyie, putera kesayangan Abu Muhammad Jibril
Abdurrahman telah memenuhi janjinya, menghibahkan hidupnya, mengorbankan
nyawanya melawan tentara kafir. Tembakan tank mengenai tubuhnya, dan
gugur sebagai syuhada.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Komunikasi
terakhir dengan adiknya, setengah bulan lalu. “Kapankah perang berkobar
lagi?” tanya adiknya. “Perang tak perlu diundang, akan datang pada
saatnya. Seperti kematian, tak pernah diundang, dia akan datang saat
takdir Allah menentukan,” jawab Ridwan melalui
facebooknya.
Kematian
Ridwan, dan juga mujahid lainnya, pastilah tidak sia-sia. Dalam salah
satu hadits shahih, Rasulullah Saw menjanjikan dua keutamaan bagi para
mujahid yang syahid di medan perang. Pertama, seorang muslim yang syahid
di tempat yang jauh dari kampung kelahirannya, maka dia mendapatkan
pengampunan dari Allah sejauh jarak perjalanan dari kampungnya ke tempat
meninggalnya.
Artinya, jika dosa-dosa diletakkan sepanjang
perjalanan itu antara kota kelahiran dan tempat meninggalnya, seluruhnya
akan diampuni oleh Allah Swt.
Kedua, sebanyak 70 orang dari anggota keluarganya yang muslim ikut masuk syurga bersamanya.
Keadaan seperti itu berlaku hingga hari kiamat, sebagaimana firman Allah Swt:
“Siapa
saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, di akhirat kelak ia akan
bersama-sama dengan para nabi, orang-orang yang jujur dalam beriman,
orang yang mati syahid dan orang-orang shalih yang telah Allah beri
nikmat. Mereka itu adalah teman-teman yang sangat baik bagi orang-orang
mukmin. Demikian itu adalah rahmat dari Allah. Cukuplah Allah yang
mengetahui perbuatan mereka”. (Qs. An-Nisa’ [4]:69-70)
Bagi
para mujahid, kematian bukanlah perkara besar, sekarang ataukah nanti,
mati di medan juang atau di atas pembaringan, merupakan takdir Ilahy.
Tapi, apakah akhir kehidupannya
husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik) atau sebaliknya
su’ul khatimah (akhir kehidupan yang buruk), itulah yang menjadi perkara besar.
Ya
Allah, terimalah amal jihad saudara kami di Bumi Syam, dan berilah
balasan sebagaimana telah Engkau janjikan melalui lisan Rasul-Mu. Amin!
*Sumber : Arrahmah.com