Headlines News :
handphone-tablet
Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan

Batu Bertuah Pengoyak Aqidah

Written By elkayis on Jumat, 24 April 2015 | 18.34

Akhir-akhir ini demam batu mulia sedang marak terjadi. Merebak di mana-mana bagaikan jamur di musim hujan. Dari pusat kota hingga pelosok daerah. Baik kalangan tua ataupun muda ingin memiliki berbagai macam permata dengan keindahan yang beragam. Walaupun harus ditebus dengan harga menjulang, banyak orang rela merogoh kocek dalam-dalam demi mendapat permata yang menawan. 
Tak dapat dinyana, permata memang memiliki sejuta pesona. Gegap gempitanya lintas area, lintas usia.

Namun apa sih sebenarnya permata itu? Permata sebenarnya adalah sebuah mineral atau batuan yang terbentuk dari proses geologi yang unsurnya terdiri atas satu atau beberapa komponen kimia.
Beragam keindahan tampak dari berbagai jenis batu yang ada. Seperti yang berjenis bacan, opal, safir, zamrud maupun amethyst. Dari warna hijau, ungu, jingga, biru, merah hingga yang memiliki guratan khas tersendiri.
Indonesia sebagai negeri dengan sumber daya alam yang melimpah tentunya memiliki beragam jenis batu permata. Permata yang sedang popular saat ini dikenal dengan sebutan batu akik. Seperti misalnya batu opal di Indonesia, yang lebih dikenal dengan istilah kalimaya dan banyak ditemukan di daerah Banten. Batu akik Sungai Dareh yang berasal dari Sumatera Selatan. Dan batu bacan yang banyak ditemukan di daerah Halmahera Selatan, Maluku Utara tepatnya di Pulau Bacan.
Beragam permata banyak dijadikan sebagai perhiasan karena keindahannya. Sudah menjadi fitrah bagi manusia memang menyukai keindahan. Namun, sungguh amat disayangkan apabila keindahan tersebut tergores oleh keyakinan hati yang dikelabui oleh syaitan untuk menggelincirkan aqidah dan mengoyak tauhid kita.
Sehingga terbitlah rasa riya’ karena nilai dari batu tersebut, merasa diri lebih bergengsi dan merasa diri lebih menawan daripada yang lain. Atau meyakini bahwa batu tersebut bertuah, memiliki kekuatan mistis, kesaktian, atau keistimewaan yang sangat dahsyat, sehingga dianggap dapat menolak bala (bahaya) dan mendatangkan manfaat tertentu. Dan pada akhirnya menjerumuskan kita pada syirik. Na’udzubillahi min dzalik.
Padahal batu tersebut tak lain hanyalah cipataan Allah swt semata. Untuk mencapai keindahannya saja batu tersebut harus dipoles dan dipasangkan dengan ring-nya. Lalu bagaimana mungkin batu tersebut bertuah atau memiliki kekuatan dahsyat yang dapat menolak bahaya, sedangkan batu itu sendiri tak kuasa menolak untuk dipoles dan dipasangkan dengan ringnya. Maka sudah sepatutnya sebagai seorang muslim kita waspada. Jangan sampai kita terlena akan fenomena keindahan batu “bertuah” yang pada akhirnya akan mengoyak aqidah kita.
Batu permata dengan segala keindahannya cukuplah menjadi perhiasan saja. Perhiasan yang seharusnya membuat kita berpikir dan bersyukur. Berpikir jika batu permatanya saja sudah indah, apalagi yang menciptakannya yaitu Allah swt. Berfikir untuk apa Allah swt menciptakan batu permata jika bukan sekedar sebagai perhiasan bagi hamba-hambanya, bukan untuk menjadi tandingan-Nya. Cukuplah kita berlindung dan berharap pada Allah SWT, penguasa semesta raya.
Kita bersyukur masih diberikan nikmat untuk menikmati salah satu keindahan yang Allah SWT ciptakan, yaitu dengan cara taat kepada-Nya. Taat pada semua yang telah disyari’atkan-Nya dan berjuang merealisasikan janji Allah swt dan kabar gembira rasul-Nya dengan kembalinya Daulah al Khilafah ar Rasyidah untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam di muka bumi ini.

Oleh: Acile Fakhma
*Sumber : kiblat.net

Etika Islam Terhadap Orang Kafir

Written By elkayis on Selasa, 21 April 2015 | 18.01



Orang Muslim meyakini bahwa seluruh agama adalah batil kecuali agama Islam yang merupakan agama yang benar, dan bahwa para pemeluk semua agama adalah kafir, kecuali pemeluk agama Islam, karena mereka orang-orang Mukmin dan orang-orang Muslim. Mereka yakin karena dalil-dalil berikut:
Firman Allah Ta’ala,
“Agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19).
“Siapa saja yang memilih agama selain Islam, Allah tidak akan menerima amalnya. Kelak di akhirat, orang semacam itu termasuk orang-orang yang celaka nasibnya.” (Ali Imran: 85).
“Pada hari ini Aku telah menjadikan Islam agama yang sempurna untuk kalian. Aku telah berikan hidayah-Ku kepada kalian dengan sempurna. Aku meridhai Islam menjadi agama kalian.” (Al-Maidah: 3).
Dengan dalil-dalil Ilahi yang benar di atas, orang Muslim mengetahui bahwa semua agama sebelum Islam telah dihapus dengan Islam, dan bahwa Islam adalah agama seluruh manusia. Oleh karena itu, Allah Ta’ala tidak menerima agama selain Islam dari siapa pun, dan tidak meridhai Syariat selain Syariat Islam.
Dari sinilah, orang Muslim menyadari bahwa siapa saja yang tidak menyembah Allah Ta’ala dengan agama Islam ia orang kafir. Untuk itu, ia menerapkan etika-etika berikut terhadap orang kafir:
  1. Tidak mengakui kekafirannya, dan tidak meridhainya, karena meridhai kekafiran adalah kekafiran.
  2. Benci kepada orang kafir karena kebencian Allah Ta’ala kepadanya, sebab cinta dan benci itu harus karena-Nya. Oleh karena itu, selagi Allah Azza wa Jalla membencinya karena kekafirannya, maka orang Muslim pun membenci orang kafir, karena kebencian-Nya kepadanya.
  3. Tidak memberikan loyalitas dan kasih sayang kepadanya, karena dalil-dalil berikut:
    Firman Allah Ta’ala,
    “Orang-orang mukmin tidak boleh mengangkat orang-orang kafir seba¬gai pemimpin untuk mengurus orang mukmin.” (Ali Imran: 28).
    “Wahai Muhammad, engkau tidak akan menemukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat mencintai orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. Sekalipun orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau keluarga besar mereka.” (Al-Mujadilah: 22).
  4. Berbuat adil terhadapnya, dan berbuat baik kepadanya jika ia bukan orang kafir yang harus diperangi, karena Allah Ta’ala berfirman,
    “Wahai orang-orang beriman, Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kalian karena agama kalian. Mereka juga tidak me¬ngusir kalian dari kampung halaman kalian. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8).
    Pada ayat yang mulia di atas, Allah Ta’ala membolehkan berbuat adil, dan berbuat baik kepada orang-orang kafir, kecuali orang-orang kafir yang wajib diperangi, karena mereka mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri dalam ketentuan orang-orang yang wajib diperangi.
  5. Menyayanginya dengan kasih sayang umum dengan memberinya makan jika ia lapar, memberinya minum jika ia kehausan, mengobatinya jika ia sakit, menyelamatkannya dan kebinasaan, dan menjauhkan gangguan daripadanya, karena dalil-dalil berikut:
    Sabda Rasulullah saw.,
    “Sayangilah orang yang ada di bumi niscaya engkau disayangi siapa yang ada di langit.” (Diriwayatkan Ath-Thabrani dan Al-Hakim. Hadits ini shahih).
    “Pada setiap orang yang mempunyai hati yang basah terdapat pahala.” (Diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah. Hadits ini shahih).
  6. Tidak mengganggu harta, darah, dan kehormatannya, jika ia bukan termasuk orang yang wajib diperangi, karena dalil-dalil berikut:
    Sabda Rasulullah saw.,
    “Allah Ta’ala berfirman, ‘Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku haramkan kezhaliman atas Diri-Ku, dan Aku mengharamkannya terhadap kalian. Oleh karena itu, kalian jangan saling menzhalimi’.” (Diriwayatkan Muslim).
    “Barangsiapa menyakiti orang kafir dzimmi, maka Aku menjadi lawannya pada hari kiamat.” (Diriwayatkan Muslim).
  7. Ia boleh memberinya hadiah, menerima hadiahnya, dan memakan hadiahnya jika ia Ahli Kitab orang Yahudi, dan orang Nasrani, berdasarkan dalil-dalil berikut:
    Firman Allah Ta’ala,
    “Pada hari ini dihalalkan bagi kalian semua yang baik. Sembelihan golong¬an kaum Yahudi dan Nasrani halal bagi kalian. Sembelihan kalian pun halal bagi mereka…” (Al Maidah: 5).
    Dikisahkan dengan shahih bahwa Rasulullah saw. diundang makan oleh orang Yahudi Madinah, kemudian beliau memenuhi undangannya, dan memakan makanan yang dihidangkan kepada beliau.
  8. Tidak menikahkan wanita Mukminah dengannya, dan boleh menikahi wanita-wanita kafir dan Ahli Kitab, berdasarkan dalil-dalil berikut:
    Allah Ta’ala melarang pernikahan wanita Mukminah dengan orang kafir secara mutlak dalam firman-Nya,
    “Wahai orang-orang beriman, apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepada kalian untuk hijrah, maka hendaklah kalian uji keimanan mereka. Allah Maha Mengetahui keimanan mereka. Jika kalian telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman, janganlah kalian kembalikan perempuan-perempuan mukmin itu kepada suami-suami mereka yang kafir. Perempuan-perempuan mukmin itu tidak lagi halal bagi laki-laki kafir, dan laki-laki kafir tidak halal bagi perempuan mukmin.” (Al-Mumtahanah: 10).
    “Janganlah kalian menikahkan perempuan-perempuan mukmin dengan laki-laki musyrik sampai mereka beriman. Budak laki-laki mukmin sungguh lebih baik daripada seorang laki-laki musyrik, sekalipun laki-laki musyrik itu menyenangkan hati kalian.” (Al-Baqarah: 221).
    Allah Ta’ala membolehkan seorang Muslim menikahi wanita-wanita Ahli Kitab dalam firman-Nya,
    Perempuan-perempuan mukmin dan perempuan-perempuan Yahudi dan Nasrani yang menjaga kehormatannya, dihalalkan untuk kalian jadikan istri dengan memberikan maskawin kepada mereka, bukan untuk dizinai atau dijadikan gundik. Siapa saja yang keluar dari Islam, sungguh pahala amalnya gugur. Pada hari akhirat kelak ia termasuk orang-orang yang rugi (Al-Maidah: 5).
  9. Mendoakannya jika ia bersin dengan memuji Allah dan berkata, “Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu, dan memperbaiki urusanmu.” Karena Rasulullah pernah bersin di samping orang orang Yahudi, karena mengharap mereka berkata, “Semoga Allah merahmatimu,” kemudian beliau mendoakan balik, “Semoga Allah memberi petunjuk kepada kalian, dan memperbaiki urusan kalian.”
  10. Tidak memulai ucapan salam kepadanya, dan jika orang kafir mengucapkan salam kepadanya, ia menjawabnya dengan mengatakan, “Wa’alaikum (juga atas kalian)”. Karena Rasulullah bersabda,
    “Jika orang-orang Ahli Kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka katakan kepada mereka, ‘Wa’alaikum’ (juga atas kalian).” (Muttafaq Alaih).
  11. Menyempitkan ruang geraknya jika bertemu dengannya di salah satu jalan ke jalan yang paling sempit, karena Rasulullah bersabda,
    “Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen. Jika kalian bertemu dengan salah seorang dari mereka di jalan, maka mendorongnya ke jalan yang paling sempit baginya.” (Diriwayatkan Abu Daud dan Ath-Thabrani. Hadits ini hasan).
  12. Tampil beda dengannya, dan tidak menirunya dalam hal-hal yang tidak penting, misalnya memanjangkan jenggotnya jika ia tidak memanjangkannya, mengecatnya jika ia tidak mengecatnya, dan berbeda dengannya dalam pakaian, atau kopiah, karena dalil-dalil berikut:
    Sabda Rasulullah saw.,
    “Dan barangsiapa meniru satu kaum, ia termasuk mereka.” (Muttafaq Alaih).
    “Hendaklah kalian berbeda dan orang-orang musyrik, panjangkan jenggot, dan cukurlah kumis.” (Muttafaq Alaih).
    “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen tidak mengecat, maka berbedalah dari mereka.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).
    Maksudnya mewarna jenggot, atau rambut dengan warna kuning, atau merah. Sedang mewamainya dengan warna hitam dilarang Rasulullah saw., karena Imam Muslim meriwayatkan, bahwa beliau bersabda,
    “Rubahlah ini (rambut putih) dan tinggalkan warna hitam.” (Diriwayatkan Muslim).
Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 168-172
*Terjemahan Al Qur’an menggunakan Tarjamah Tafsiriyah karya Ustadz Muhammad Thalib.
-Sumber : www.arrahmah.com

Masuk Surga Tanpa Hisab dan Adzab

Written By elkayis on Rabu, 15 April 2015 | 16.36




Kebahagiaan yang hakiki dalam hidup ini adalah ketika seorang hamba dijauhkan oleh Allah ta’ala dari siksa api neraka dan ketika Allah memasukkannya ke dalam surga-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah memperoleh kemenangan, dan bukanlah kehidupan dunia melainkan kehidupan yang menipu.” (QS. ‘Ali Imran : 185)

Syaikh As Sa’diy rahimahullah mengatakan, “Orang yang memperoleh kemenangan adalah mereka yang selamat dari adzab yang pedih, dia bisa menikmati berbagai macam kenikmatan di surga. Kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata manusia sebelumnya, belum pernah didengar oleh telinga manusia, dan belum pernah terlintas di dalam hati manusia.”[1] Demikianlah seharusnya orientasi kehidupan seorang muslim, menjadikan kebahagiaan akhirat sebagai puncak cita dan harapannya.

Tauhid, Kunci Kebahagiaan Manusia

Setelah kita mengetahui bahwa kabahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan akhirat, yaitu ketika manusia menikmati kenikmatan surga, sudah selayaknya kita memahami apa sarana yang dapat menghantarkan seseorang menuju surga dengan berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya.

Saudaraku, ketahuilah bahwa kunci kebahagiaan tersebut adalah tauhid, menyerahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah ta’ala semata. Barangsiapa yang dapat merealisasikan tauhid dalam seluruh perjalanan hidupnya, dan menjauhi kesyirikan maka sungguh dia adalah orang yang memperoleh kemenangan yang besar.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yaitu orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan dengan kedzoliman (kesyirikan[2]), mereka lah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapatkan petunjuk” (Al An’am:82)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ketika beliau menerangkan hakikat hak Allah kepada shahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya hak Allah yang wajib dipenuhi hambanya adalah hendaklah mereka beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat kesyirikan sedikit pun, dan hak hamba yang akan dipenuhi oleh Allah, adalah Allah tidak akan mengadzab orang-orang yang tidak berbuat kesyirikan[3]

Syaikh As Sa’diy rahimahullah menjelaskan bahwa diantara keutamaan orang yang merealisasikan tauhid adalah terbebasnya ahli tauhid dari kekekalan siksa neraka, bisa jadi orang tersebut disiksa di neraka untuk menghapus dosa-dosanya, namun tidak selama-lamanya. Tetapi jika ahli tauhid mampu merealisasikan tauhid dengan sebenar-benarnya, maka niscaya Allah ta’ala akan menjaga dirinya dari siksa api neraka secara sempurna.[4]

Kesempurnaan tauhid yang terpateri dalam hati seorang ahli tauhid akan memerdekakannya dari penghambaan diri dan ketergantungan hati kepada makhluk, akan membebaskan diri dari rasa takut dan berharap kepada makhluk. Inilah hakikat dari kemuliaan seorang manusia.[5] Hanyalah kepada Allah, seorang ahli tauhid akan menghambakan diri dan menggantungkan hatinya.

Hakikat Merealisasikan Tauhid

Seorang hamba yang merealisasikan tauhid maknanya adalah mensucikan diri dari segala cabang-cabang kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan.[6]

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan secara ringkas bahwa makna ‘merealisasikan tauhid’ adalah membersihkan diri dari noda-noda kesyirikan. Ini tidak akan pernah terwujud dalam diri hamba melaikan terpenuhi tiga perkara: Al Ilmu (mengetahui makna tauhid), Al I’tiqod (meyakini kandungan tauhid) dan Al Inqiyad (tunduk terhadap konsekuensi-konsekuensi tauhid).[7] Jika ketiga hal tadi telah terwujud dan terbukti secara nyata pada seseorang (secara umum) maka masuk surga tanpa hisab menjadi jaminan bagi dirinya.

Lihatlah Balasan bagi Sang Perealisasi Tauhid

Saudaraku, diantara balasan orang yang merealisasikan tauhid adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dalam hadits yang panjang:

“Telah diperlihatkan kepada diriku umat-umat manusia. Aku melihat seorang Nabi yang bersamanya beberapa orang dan bersamanya satu dan dua orang, serta seorang Nabi yang tidak ada seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepada diriku sekelompok manusia yang berjumlah banyak, dan aku pun mengira bahwa mereka adalah umatku. Tetapi dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah Musa bersama kaumnya’. Lalu tiba-tiba aku melihat sekelompok manusia yang banyak pula. Kemudian dikatakan kepadaku ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab”.

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan bergegas masuk ke dalam rumahnya. Maka para shahabat mulai membicarakan siapakah mereka itu. Di antara mereka ada yang mengatakan, ‘Mungkin mereka adalah orang-orang yang menjadi shahabat Rasulullah’. Ada lagi yang mengatakan, ‘Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam, sehingga mereka tidak pernah berbuat kesyirikan’. Dan ada di antara mereka yang menyebutkan kemungkinan lainnya.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dan menemui mereka dan menjelaskan, “Mereka adalah orang-orang tidak meminta diruqyah, tidak meminta diobati dengan cara kai (menempel luka dengan besi panas), tidak melakukan tathayur, dan mereka adalah orang-orang yang bertawakal kepada Rabb mereka (HR. Bukhari 5705, 6541 dan Muslim 220)

Makna Istirqa’ (Meminta untuk Diruqyah oleh Orang Lain)

Ruqyah adalah bacaan-bacaan tertentu untuk perlindungan yang dibacakan kepada seseorang yang menderita penyakit, semisal penyakit demam, penyakit ayan dan penyakit yang lainnya.[8] Pada asalnya, ruqyah adalah sebagaimana cara pengobatan pada umumnya. Ada beberapa syarat yang harus ada agar ruqyah tersebut tergolong ruqyah yang disyariatkan.

Diantara syarat-syarat ruqyah yang disyari’atkan adalah: [1] Tidak meyakini bahwa ruqyah tersebut mampu menyembuhkan dengan sendirinya, tanpa izin dari Allah ta’ala. [2] Tidak mengandung kata-kata yang menyelisihi syariat, semisal lafadz-lafadz doa kepada selain Allah, meminta bantuan kepada jin dan yang semisalnya. [3] Lafadz-lafadz ruqyah hendaklah dapat dipahami maknanya.[9]

Adapun ruqyah yang tidak memenuhi syarat di atas, maka merupakan ruqyah yang terlarang, bisa menjadi sarana kesyirikan atau bahkan bisa termasuk ke dalam syirik besar.

Ibnul Qayyim, menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallahu, menjelaskan bahwa yang terlarang adalah meminta untuk diruqyah oleh orang lain. Karena pada diri orang yang meminta diruqyah, terdapat kecondongan dan penyandaran hati kepada selain Allah ta’ala. Adapun jika kita meruqyah orang lain, maka hal ini tidak termasuk dalam larangan makruh ini.[10] Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah[11] diri beliau sendiri, demikian pula Malaikat Jibril pernah meruqyah beliau[12], demikian pula para shahabat juga pernah meruqyah.[13]

Makna Pengobatan Kai

Pengobatan kai adalah pengobatan dengan cara menempelkan besi panas pada luka dengan tujuan agar darah yang keluar dari luka cepat mengering dan berhenti.

Ibnul Atsir rahimahullahu membawakan pendapat bahwa hukum pengobatan kai adalah terlarang jika digunakan sebagai media pencegahan penyakit, namun hukumnya mubah ketika ada kebutuhan.[14] Hanya saja, seseorang yang tidak meminta diobati dengan cara kai, menunjukkan adanya kesempurnaan tawakal kepada Allah ta’ala.

Makna Tathayur

Ibnu Atsir rahimahullahu dalam kitabnya An Nihayah menjelaskan, tathayur adalah merasa sial terhadap sesuatu, yang karenanya dia membatalkan niat untuk melakukan aktivitasnya.[15] Tathayur diambil dari kata ‘thairun’ (Indonesia: burung), karena orang arab biasa beranggapan sial atau merasa beruntung dengan mengaitkannya dengan burung. Ketika hendak safar, dalam rangka ‘penunjuk jalan’, mereka menggertak burung, jika burung terbang ke arah kanan maka mereka meneruskan perjalanannya , tetapi jika burung ke arah kiri, maka mereka membatalkan perjalanan mereka.[16]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (dalam hatinya terdapat hal ini), hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakalnya”[17] (Thiyarah -dalam bahasa arab- adalah bentuk jamak dari tathayur)

Tathayur adalah perkara yang terlarang dalam agama Islam, karena tathayur menyebabkan berkurangnya kemurnian tauhid seseorang. Seseorang yang melakukan tathayur maka dia telah bertawakal dan menyandarkan hatinya kepada selain Allah ta’ala, dan dia telah melakukan sebab yang pada hakikatnya tidak ada kaitan dan hubungannya sama sekali dengan keinginannya.[18]

Tawakkal hanya kepada Allah ta’ala Semata

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sifat yang terakhir dari orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa  azdab adalah bertawakal kepada Allah ta’ala. Inilah pangkal dari segalanya. Tawakal adalah penyandaran hati dengan sebenarnya kepada Allah ta’ala dalam mewujudkan kebaikan dan dalam menangkal bahaya, dengan diiringi usaha-usha yang diijinkan dalam syari’at Islam.

Sebab utama yang menghantarkan seseorang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, adalah adanya kesempurnaan tauhid pada dirinya. Karena kesempurnaan tauhid dan penyandaran hati kepada Allah itulah, mereka enggan untuk meminta ruqyah, meminta di-kay kepada orang lain, karena pada hakikatnya perbuatan semacam itu sangat besar kemungkinan hilangnya tawakal kepada Allah ta’ala dalam dirinya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”(Ath Tholaq : 3).

Tawakkal pun Membutuhkan Usaha

Bukanlah maksud hadits di atas, seseorang tidak perlu berusaha dalam mewujudkan keinginannya, hanya berpangku tangan menunggu pertolongan Allah datang. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan[19] bahwa, tawakal harus memenuhi dua hal, yaitu [1] Penyandaran hati yang sebenarnya kepada Allah ta’ala, [2] Melakukan sebab-sebab yang diijinkan dalam syari’at.

Kedua hal tersebut harus beriringan, tidak boleh seseorang bersandar kepada Allah tanpa ada usaha sedikit pun, atau melakukan usaha tanpa menyandarkan hati kepada Allah ta’ala. Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan, ”Barang siapa yang meniadakan sebab dalam usahanya, maka hal ini menunjukkan kecacatan tawakalnya, barang siapa yang tidak berusaha maka hanya akan menjadikan harapannya sebatas angan-angan semata.”[20]

Semoga Allah ta’ala menjadikan kita sebagai bagian dari barisan muwahhidin (ahli tauhid), yang mendapatkan janji dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk surga tanpa adzab dan tanpa hisab. Amiin.



[1] Taisir Karimirrahman, hal. 159, Cetakan Maktabah Ar Rusyd.
[2] Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, riwayat Bukhari no. 3360 dan Muslim no.124
[3] HR. Bukhori, no.2856
[4] Al Qoulul Sadid Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Abdurrahman As Sa’diy, hal.57.
[5] Al Qoulul Sadid Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Abdurrahman As Sa’diy, hal.60.
[6] Fathul Majiid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, hal. 75.
[7] Al Qoulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, hal. 91.
[8] An Nihayah fi Gharibil Atsar, Ibnul Atsir, Maktabah Syamilah
[9] Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 187
[10] Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Maktabah Syamilah
[11] HR. Bukhari, Kitab At Thibi, Bab Ruqyatun Nabiy, no. 5744
[12] HR. Muslim, Kitab As Salam, Bab At Thibi wal Marodhi war Ruqa, no. 5828
[13] HR. Bukhari, no. 2276, 5007
[14] An Nihayah fi Gharibil Atsar, Ibnul Atsir, Maktabah Syamilah
[15] An Nihayah fi Gharibil Atsar, Ibnul Atsir, Maktabah Syamilah
[16] Lihat Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, jilid 1, hal. 559
[17] HR. Abu Dawud, no 3912, di shahihkan oleh Syaikh Al Albani
[18] Lihat Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin,jilid 1,  hal. 560
[19] Lihat Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, jilid 2, hal. 8.
[20] Al Fawa’id, Hakikat At Tawakul wa Darajatuhu, Ibnu Qayyim Al Jauziyah,  cet. Maktabah Ar Rusyd, hal. 139.


*Sumber : Muslim.or.id

Hanya Satu Formula, Kokohkan Iman

Written By elkayis on Rabu, 11 Maret 2015 | 22.08


 Banyak cara yang diyakini manusia bisa merubah mereka menjadi lebih baik. Maka bertebaranlah kata-kata mutiara, peribahasa, nasihat bijak, petuah luhur, serta berbagai aliran kepercayaan, yang tidak sepi peminat. Bercampur aduk antara buah pengamatan, sintesa pikiran, firman yang dibengkokkan, nafsu yang tersembunyi, hingga jiwa yang membenci dunia dan berat sebelah mengambil esensi.

Sesaat, jiwa yang kosong namun merindukan damai terpesona karenanya. Terbuai oleh manisnya susunan kata-kata, santunnya bahasa, tulusnya senyuman, hingga luhurnya tindakan. Serasa terkepung keindahan yang menyejukkan meski terlupa pijakan dan ukuran apa yang dijadikan pegangan. Hanya atas apa yang dirasa, bersatunya keinginan dan kenyataan, ramainya penerimaan, hingga penolakan akan akhirat. Maka apakah ia bisa dibenarkan?

Secara hakiki, perbaikan diri kita dimulai dengan penanaman akidah. Sebagaimana Rasulullah melakukannya nyaris 13 tahun di Makah sebelum datang kewajiban shalat, zakat, puasa, dan haji. Sebuah masa yang panjang dalam memperoleh hubungan keyakinan dengan Allah Sang Pencipta, dengan surga dan nerakaNya, juga dengan KuasaNya dalam mengatur alam semesta secara layak. Untuk hasil fantastis di kemudian hari dalam konteks perubahan manusia secara utuh dan menyeluruh.

Ya akidah, bukan yang lain. Karena cara-cara lain adalah jebakan, yang mungkin tampak indah dan megah namun hanya mendatangkan musibah. Atau terlihat santun tapi tak sanggup menuntun. Sebab Allah telah memaklumkannya dalam sebuah firman, “Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak seorangpun dari kalian menjadi baik selama-lamanya, tetapi Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Karena Allah-lah yang sebenar-benar Pencipta, sehingga hanya Dia-lah yang mengetahui formula kebaikannya. Dan karenanya Rasulullah melantunkan doa, “Ya Allah, berikanlah ketakwaan pada diriku dan sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik Rabb yang menyucikannya, Engkau Pelindung dan Pemeliharanya.” (HR. Muslim)

Akidah membuat kita tahu bahwa Allah tidak mungkin menipu dan ditipu. Dia selalu benar dan menepati semua janjiNya tanpa kecuali. Menetapkan takdir atas semua makhlukNya dengan keadilan dan kesempurnaan ilmuNya yang meliputi segala sesuatu. Membuat kita mengerti bahwa ada keadilan hakiki, suatu saat nanti, di saat para durjana merampasnya di dunia ini.

Akidah yang lurus dan salimah, terbukti menumbuhkan kekuatan luar biasa ke dalam jiwa pemiliknya. yaitu :


1. al azmu (tekad yang kuat),

2. as shabru (kesabaran),

3. at tsabat (keteguhan),

4. al iqdam (pengorbanan),


5. at tawakul (tawakal)

Gabungannya menjadi satu Formula yang memampukan manusia melakukan kerja hebat di atas kemampuan manusia pada umumnya, sehingga menghasilkan pencapaian yang mencengangkan. Tapi kenapa kita masih saja mencari formula yang lainnya..???

*Sumber : arrisalah.net


Lazada Indonesia

Yang Benar In Sya Allah, Bukan Insya Allah

Written By elkayis on Sabtu, 07 Maret 2015 | 07.00



Hal yang hendaknya disyukuri, banyak sekali ungkapan Islam yang sudah menjadi budaya dalam ucapan dan perbuatan umat Islam Indonesia. Di antara ungkapan yang sudah lumrah adalah kata “in sya’a Allah”.

Ungkapan ini terdiri 3 kata: in, sya’a, dan Allah. In artinya jika, dan sya’a artinya berkehendak. 

Sehingga maksudnya adalah untuk menggantungkan rencana, bahwa rencana melakukan sesuatu hanya akan terlaksana jika sesuai dengan kehendak Allah swt. 


Wasiat Luqman Hakim Dalam Al-Qur'an

Written By elkayis on Jumat, 06 Maret 2015 | 16.30


Wasiat Pertama: Jangan Menyekutukan Allah
 
Allah berfirman melalui lisan Luqman:
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13).
 
Sebuah permulaan dengan memprioritaskan yang paling penting. Luqman Al-Hakim sangat tepat dalam memulai wasiat, karena masalah ini merupakan asas yang mengakar dan fondasi yang kokoh. Hal pertama yang wajib diajarkan ayah kepada anak adalah tauhid (mengesakan Allah) dan mengingatkan anak dari dua jenis kesyirikan, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Sehingga sang anak tidak beribadah kepada selain Allah, tidak menyeru tandingan selain Allah, tidak meminta kepada orang yang telah meninggal dan benda-benda gaib, tidak menghadapkan wajah atau hati pada selain Allah, baik karena suka atau takut, serta tidak memperlihatkan amal pada siapapun.
 
Syaikh Sulaiman bin Abdurrahman Al-Hamdan menuturkan, “Syirik adalah dosa terbesar di sisi Allah, karena syirik dapat merusak kehormatan rububiyah, menghina uluhiyah, dan berburuk sangka kepada Rabb seluruh alam.
 
Sayyid Quthb berkata, “Nasihat yang disampaikan Luqman kepada putranya adalah nasihat bijak. Nasihat yang membebaskan dari aib, dan orang yang mengucapkannya dikaruniai hikmah. Nasihat yang tidak menuduh karena tidak mungkin seorang ayah menasihati putranya dengan menuduh. Nasihat ini menegaskan masalah tauhid.
 
Kata-kata “Wahai anakku” mengisyaratkan kasih sayang dalam diri seorang ayah terhadap anaknya, menampakkan perasaan keayahan yang deras mengalir dalam diri seorang anak, serta rasa cinta dan saying seorang ayah terhadap anak dan kekhawatiran akan segala keburukan terhadap sang anak.
 
Luqman Al-Hakim tidak menyebut masalah tauhid dalam wasiatnya tapi hanya cukup melarang dari kesyirikan saja. Itu tidak bermasalah, karena larangan melakukan kesyirikan mencakup perintah mengesakan Allah sebagai sebuah konsekuensi. Bila seorang hamba meninggalkan syirik besar dan kecil, secara otomatis ia menjadi ahli tauhid yang murni. Wallahu a’lam.
 
Wasiat Kedua: Berbakti Kepada Orang Tua
 
Allah berfirman:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua ibu bapakmu. Hanya kepada Ku lah kembalimu”. (Luqman: 14).
Ikatan yang pertama setelah ikatan akidah adalah ikatan keluarga. Oleh karena itu, penjelasan tentang berbakti kepada kedua orang tua dikaitkan dengan penyembahan terhadap Allah dan peringatan dari syirik untuk memberitahukan pentingnya berbakti kepada orang tua di sisi Allah.
 
Melalui ayat yang inspiratif ini, Al-Qur’an menyatukan perasaan berbakti dan kasih sayang di hati anak-anak. Hal ini disebabkan, kehidupan berlalu begitu cepat melintasi manusia, mengarahkan perhatian mereka yang kuat ke depan, menuju keturunan, generasi baru, dan generasi mendatang. Mereka jarang mengarahkan perhatian ke belakang, melihat ayah ibunya, menuju kehidupan yang telah berlalu, dan generasi yang telah lenyap. Oleh karena itu, anak memerlukan penyatuan perasaan yang kuat agar bisa menengok ke belakang, memerhatikan kedua orang tuanya. 
 
Orang tua selalu mengedepankan totalitas untuk menjaga anak dan mengorbankan segala sesuatu hingga mengorbankan diri sendiri. Hal ini ibarat tunas hijau yang menyerap seluruh gizi dalam benih untuk menjadi tanaman muda. Ibarat anak ayam yang menyerap seluruh gizi yang berada di dalam telur untuk kemudian menetas. Seperti itulah anak-anak menyerap seluruh kenikmatan, kesehatan, jerih payah, dan perhatian kedua orang tua hingga tidak terasa keduanya menjadi tua dan menanti ajalnya. Meskipun demikian, orang tua merasa senang.
 
Sementara itu, anak-anak cepat sekali melupakan itu semua. Padahal melalui peran orang tuanya, ia bisa melesat menuju masa depannya hingga tak terasa ia telah beristri dan berketurunan. Seperti itulah kehidupan yang berjalan dengan cepat.
 
Oleh karena itu, orang tua tidak perlu melelahkan anaknya. Mereka hanya perlu menyatukan perasaan anaknya dengan kuat agar ia bisa mengingat kewajiban generasinya. Dari sinilah perintah berbuat baik terhadap orang tua muncul dalam bentuk taklif dari Allah yang mengandung makna perintah yang ditekankan setelah penekanan perintah lainnya, yaitu perintah menyembah Allah dan larangan berbuat syirik.
Wasiat Ketiga: Tidak Ada Ketaatan Dalam Mendurhakai Allah
 
Allah berfirman:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…” (Luqman: 15).
 
Meski kita diperintahkan untuk hormat dan berbuat baik kepada kedua orang tua, namun hormat, ketaatan, dan bakti ini memiliki batasan tertentu yang telah digariskan Islam yang sama sekali tidak boleh diterjang. Batasan yang tidak boleh diterjang ini seperti yang dijelaskan dalam sabda Rasulullah:
إِنَّماَ الطَّاعَة في المعروف
“Sesungguhnya ketaatan hanya (dibolehkan) dalam kebaikan.”
 
Anak harus mendengar dan menuruti kedua orang tua dalam segala hal yang diperintahkan selama orang tua tidak memerintahkan kemaksiatan. Bila orang tua memerintahkan untuk mendurhakai Allah, keduanya tidak berhak didengar dan dituruti. Hal ini disebabkan, tidak ada ketaatan bagi makhluk untuk mendurhakai Al-Khaliq, karena menuruti makhluk terbatas pada kebaikan semata.
 
Sayyid Quthb mengungkapkan setelah menyebutkan ikatan antara anak dan orang tua dan bagaimanakah ikatan tersebut, “meski demikian, ikatan akidah lebih diperioritaskan daripada ikatan yang kuat ini.” Beliau melanjutkan, “Hanya saja, ikatan orang tua dengan anak dengan simpati dan penghormatan seperti ini hanya muncul dalam urutannya setelah eratnya akidah.
 
Wasiat untuk manusia tetap ada dalam kaitannya dengan kedua orang tua, “Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (Luqman: 15). Berdasarkan inilah kewajiban untuk taat pun gugur dan ikatan akidah yang kuat tetap berada di atasnya.
 
Meskipun orang tua mencurahkan segala upaya, kesungguhan, paksaan, dan kepuasan argument untuk menipu anak agar menyekutukan Allah dengan sesuatu yang ketuhanannya tidak jelas dan menyekutukan apapun selain Allah yang tidak memiliki ketuhanan. Saat itu, anak diperintahkan agar tidak menuruti orang tua. Perintah ini datang dari Allah, Pemilik hak pertama dalam ketaatan.
 
Wasiat Keempat: Wala’ dan Bara’
Allah berfirman:
“… Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman: 15).
 
Dibawah naungan suasana keimanan, nasihat dan penuturan wasiat ini, wasiat keempat datang dari Hakim yang paling adil dan Yang paling pemurah diantara seluruh pemurah agar mengikuti jalan orang-orang kembali menuju Rabb. Mereka adalah orang-orang mukmin yang memurnikan agama untuk Allah. Inilah penjelasan tekstual dari ayat tersebut. Adapun penjelasan konteksnya berisi isyarat untuk melepaskan diri dari orang-orang yang menyimpang dari jalan yang lurus ini. Hal ini disebabkan bila Allah memerintahkan untuk mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepadaNya, maka Dia juga memerintahkan untuk menentang pihak yang memusuhi serta berlepas diri dari mereka.
 
Bentuk-bentuk Wala’ dan Bara’ 
 
1.                  Bentuk wala’ (pembelaan) terhadap orang-orang kafir
·                     Menyerupai orang-orang kafir dari segi ucapan, pakaian, dan lainnya.
·                     Tinggal di negara mereka dan tidak berpindah ke negara-negara kaum muslimin demi  menyelamatkan agama.
·                     Bepergian ke negara-negara orang kafir dengan maksud rekreasi dan kesenangan diri.
·                     Menolong dan membela orang-orang kafir untuk melawan kaum muslimin, memuji dan membela mereka.
·                     Meminta banutan kepada orang-orang kafir, percaya pada mereka, menempatkan mereka di posisi penting di mana berbagai rahasia kaum muslimin terdapat di sana, serta menjadikan mereka sebagai teman baik dan penasihat.
·                     Menuturkan sejarah orang-orang kafir, khususnya sejarah yang menyebutkan upacara-upacara keagamaan dan hari-hari raya mereka seperti kalender Masehi.
·                     Turut serta dalam hari-hari raya orang-orang kafir.
·                     Memuji kebudayaan dan peradaban orang-orang kafir serta kagum terhadap etika dan kemahiran mereka.
·                     Memberi nama seperti nama-nama orang kafir.
·                     Memintakan ampunan dan berbelas kasih kepada mereka.
 
2.                  Bentuk wala’ (pembelaan) terhadap kaum mukminin
·                     Hijrah ke negara-negara kaum muslimin dan meninggalkan negara-negara kaum kafir.
·                     Membela dan menolong kaum muslimin dengan jiwa, harta, dan lisan yang mereka perlukan dalam urusan agama atau dunia.
·                     Turut merasa sakit atas derita yang mereka rasa dan turut bergembira atas kegembiraan mereka.
·                     Memberi nasihat, menyukai kebaikan untuk mereka, dan tidak menipu mereka.
·                     Memuliakan dan menghormati mereka, tidak menghina dan mencela mereka.
·                     Bersama mereka dalam kondisi susah maupun senang, sulit atau lapang.
·                     Menjenguk, senang bertemu mereka, dan berkumpul dengan mereka.
·                     Menghargai hak-hak mereka.
·                     Bersikap lemah lembut pada orang-orang muslim lemah.
·                     Mendo’akan dan memintakan ampunan untuk mereka.
 
Pembagian Manusia dalam wala’ dan wara’
1.                  Orang yang dicintai dengan tulus murni
Mereka adalah orang-orang mukmin murni dari kalangan nabi, orang-orang jujur, syuhada, dan orang-orang saleh yang dipimpin oleh Rasulullah.
2.                  Orang yang dibenci dan dimusuhi tanpa adanya cinta dan pembelaan sedikit pun
Mereka adalah orang-orang kafir, musyrik, munafik, murtad, dan atheis murni meski ras mereka berbeda-beda.
3.                  Orang yang dicintai dari satu segi dan dibenci dari dari segi lain
Mereka adalah orang-orang mukmin pendurhaka.
Wasiat Kelima: Detailnya Hisab dan Pentingnya Muraqabah
 
Allah berfirman:
“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus Lagi Maha Mengetahui.” (Luqman: 16).
 
Firman Allah, “Niscaya Allah ajan mendatangkannya (membalasinya),” yaitu, Allah akan menhadirkannya pada hari kiamat saat diletakkan di timbangan amal perbuatan kemudian diberi balasan. Baik dibalas baik dan buruk dibalas buruk, seperti yang disebut dalam firman Allah, “Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat. Maka tiadalah dirugikan seseorang sedikitpun.” (Al-Anbiya’:47). Dan firman Allah, “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula.” (Al-Zalzalah: 7-8).
 
Meski biji sawi itu terjaga dan tertutup di balik batu hitam atau berada di antah beratah di kolong langit dan bumi, Allah tetap akan mendatangkan (balasan)nya. Karena, tidak ada sesuatu pun seberat biji sawi pun yang tidak diketahui oleh Allah, baik dilangit maupun di bumi.
 
Oleh karena itu, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah Maha Halus Lagi Maha Mengetahui.” (Luqman: 16). Yaitu, ilmu dan pengetahuanNya Maha Halus hingga mengetahui segala isi, rahasia, serta kesamaran-kesamaran dalam gua dan samudra. Dan yang dimaksudkan disini adalah dorongan untuk merasakan pengawasan Allah dan beramal dengan menaatiNya sebisa mungkin. Selain itu juga ancaman melakukan perbuatan tercela, sedikit atau banyak.
 
Sayyid Quthb menuturkan bahwa setelah rangkaian wasiat Luqman untuk putranya disebutkan, dilanjutkan oleh bagian wasiat selanjutnya untuk menegaskan masalah akhirat beserta penghisaban detail dan balasan adil. Hakikat ini tidaklah disebut begitu saja, tapi disebutkan secara nyata dan fasih dalam bentuk yang membekas, menggugah perasaan dengan menelaah ilmu Allah yang menyeluruh, luas, detail, dan halus.
Wasiat Keenam: Dirikanlah Shalat
 
Allah berfirman melalui lisan Luqman, “Hai anakku, dirikanlah shalat.” Perintah shalat dalam Al-Qur’an selalu dikaitkan dengan kata iqamah. Amatlah jauh berbeda antara orang yang sekedar shalat dan yang mendirikan shalat. Berapa banyak orang shalat namun menurut hokum syariat tidak disebut orang shalat karena yang bersangkutan tidak menegakkan shalat. Sang pendidik kebaikan, Rasulullah, bersabda tiga kali kepada orang yang tidak baik dalam menunaikan shalat:
ارجِع فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَم تُصَلِّ
“Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya kau belum shalat.”
 
Berapa banyaknya kaum muslimin seperti orang yang disabdakan Rasulullah ini yang tidak menunaikan shalat dengan baik, bahkan lebih parah lagi. Seseorang memulai shalat dengan hati tidak khusuk dan anggota badan tidak tenang hingga melenceng dari shalat.
 
Tuntutan firman Allah, “Dirikanlah shalat,” adalah wujud penerapan sabda Rasulullah:
صَلُّوا كَمَا رَأَيتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah seperti kalian melihatku shalat.”
 
Kita tahu, setan menghalang-halangi seluruh jalan kebaikan manusia untuk menutupnya seperti yang diinformasikan oleh Allah dalam kitabNya, “Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al-A’raf: 16). Yaitu, aku akan menghalangi mereka agar amal baik mereka rusak karena tidak mengikuti sunnah Nabi atau tidak melakukannya dengan ikhlas untuk Allah semata.
 
Inilah dua syarat diterimanya amal, yaitu ikhlas dan mengikuti sunnah. Bila salah satunya tidak ada, amalan akan dikembalikan lagi kepada pelakunya. Semoga Allah berkenan melindungi kita.
Wasiat Ketujuh: Amar Makruf Nahi Mungkar
 
Amar makruf dan nahi mungkar adalah kewajiban kuat yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba-hambaNya. Saat orang sepakat untuk meninggalkan kewajiban ini, maka mereka sama saja telah mewajibkan diri meerka sendiri tertimpa murka dan laknat Allah. Allah berfirman:
 
 “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya sangat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Al-Ma’idah:78-79).
 
Rasulullah bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada ditanganNya, hendaklah kalian memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hendaklah kalian meraih tangan pelaku keburukan dan kau tegakkan di atas kebenaran dengan sebenarnya atau Allah benar-benar akan mematikan hati kalian satu sama lain atau melaknat kalian seperti halnya melaknat mereka.”
 
Allah menginformasikan bahwa orang yang menyeru menujuNya yang melakukan amalan baik adalah manusia terbaik dari segi ucapan dan tindakan. Allah berfirman:
 
 “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushilat: 33).
 
Orang yang menyeru menuju Allah saat menyempurnakan diri dengan mengetahui kebenaran dan petunjuk, ia juga wajib berusaha untuk menyempurnakan orang lain. Tidak terbatas pada dirinya semata seperti yang dikira mereka yang tidak tahu dengan mengatakan, “Tunaikan kebenaran, jangan hiraukan orang lain, mereka tidak berguna bagimu.”
 
Tidak seperti itu, tapi menyeru kepada Allah dengan hikmah, tutur kata yang baik, dan berdebat dengan cara yang terbaik seperti kondisi para rasul dan para pengikut mereka hingga hari pembalasan.
 
Amar makruf nahi mungkar adalah salah satu syiar agung islam dan salah satu penopang kuat masyarakat rabbani seperti yang ditunjukkan oleh berbagai nash, disaksikan oleh sejarah, dan diungkapkan oleh realitas. Saat ini, umat perlu menghidupkan kembali syiar ini dan memperkuat penopang tersebut untuk menghilangkan debu-debu yang melekat yang ditimbulkan oleh tipu daya internal dan eksternal yang bisa terlaksana andai saja bukan karena keterbatasan pemahaman Islam dan jauhnya umat dari agamanya sendiri.
 
Urgensi amar makruf nahi mungkar
·                 Amar makruf nahi mungkar adalah faktor penyebab baiknya umat ini, dan salah satu karakteristik dan kelebihan yang dikaruniakan Allah atas umat umat ini diantara seluruh umat.
·                 Amar makruf nahi mungkar adalah bagian dari jaminan yang ditegakkan Allah diantara kaum mukmin.
·                 Amar makruf nahi mungkar menjamin lingkungan terhindar dari polusi pikiran dan etika.
·                 Amar makruf nahi mungkar adalah jaminan dari hukuman-hukuman ilahi yang akan menimpa masyarakat saat kerusakan menyebar luas.
 
Halangan-halangan amar makruf nahi mungkar:
·               Malu
·               Merasa belum pantas karena banyak dosa
·               Merasa dekat dengan pendosa
·               Merasa tidak memiliki massa
·               Takut disiksa
·               Khawatir terjadi fitnah
Wasiat Kedelapan: Bersabarlah
 
Allah berfirman melalui lisan Luqman:
 
 “… Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman: 17).
 
Karena Allah tahu bahwa orang yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran akan mendapatkan gangguan dan siksa, Allah memerintahkannya untuk bersabar. Rasulullah bersabda: 
المؤمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصبِرُ عَلَى أَذَاهُم أَفضَلُ مِن الَّذِي لَايُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصبِرُ عَلَى أَذَاهُم (رواه أحمد وإبن ماجه)
“Mukmin yang bergaul dengan orang dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik dari yang tidak bergaul dengan orang dan tidak sabar atas gangguan mereka.”
 
Dengan demikian, sabar adalah bekal utama seorang dai yang ingin mendidik manusia diatas manhaj Al-Qur’an dan sunnah, mengingat jalan menyeru manusia menuju Allah penuh dengan duri. Rasulullah sendiri pernah ditaburi tanah, dilempari kotoran, dan dicerca dengan kata-kata yang paling buruk, tapi beliau tetap bersabar hingga bisa menyampaikan wahyu yang diturunkan oleh Allah dengan sebenarnya. Karena itu, seorang dai harus berhias diri dengan kesabaran dan meneladani Rasulullah.
Wasiat Kesembilan: Jangan Sombong
 
Allah berfirman melalui lisan Luqman:
“Dan janganlah kamu memakingkan mukamu dari manusia (karena sombong)…..”(Luqman: 18).
Yaitu, janganlah kamu palingkan wajah dan bermuka masam terhadap sesame karena sombong dan tinggi hati. Ini adalah sifat tercela yang harus dihindari muslim. Tidak memalingkan wajah dari orang lain saat berbicara karena merendahkannya, tapi sebaliknya bersikap remah dan menghadapkan wajah.
 
Sombong menjadi penghalang surga karena sombong menghalangi seseorang dari akhlak orang-orang mukmin mengingat orang sombong tidak bisa mencintai untuk orang-orang mukmin seperti yang ia cintai untuk diri sendiri. Orang sombong tidak bersikap tawadhu’, tidak meninggalkan sikap dengki, hasud, dan murka, tidak menahan amarah, tidak menerima nasihat, dan tidak terhindar dari celaan orang. Tidak ada satu pun akhlak tercela melainkan pasti dilakukan. Semoga Allah berkenan menghindarkan kita dari sikap tercela.
Wasiat Kesepuluh: Janganlah Berjalan dimuka Bumi Dengan Angkuh
 
Allah berfirman: melalui lisan Luqman:
“… Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18).
Ini termasuk akhlak tercela yang dilarang Islam. Jangan berjalan dengan angkuh, sombong, berlagak, dan membangkang agar Allah dan manusia tidak murka pada kita. Allah melarang akhlak tercela ini dalam ayat lain sebagai berikut, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Al-Isra’: 37).
 
Dengan kekuatan dan kemuliaan, manusia tidak boleh lalai untuk bersikap rendah hati yang diserukan Al-Qur’an dengan merendahkan kesombongan dan keangkuhan, beretika terhadap Allah, beretika terhadap sesama layaknya terhadap diri sendiri, dan beretika sosial. Tidak ada yang meninggalkan etika ini kemudian beralih ke etika kesombongan dan ujub selain manusia berhati kecil dan beridealisme kecil yang dibenci Allah karena kesombongannya, lupa akan nikmat yang diberikan, dan dibenci sesama karena sikap congkak dan tinggi hati.”
Wasiat Kesebelas: Etika Berjalan
 
Allah berfirman melalui lisan Luqman: 

 “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan….” (Luqman:19).
 
Saat Allah melarang cara berjalan yang diharamkan, yaitu cara berjalan dengan sombong, congkak, dan ujub, Allah menunjukkan cara berjalan yang baik, yang tidak ada kesombongan dan ujub, “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan.” Yaitu, berjalanlah dengan tawadhu’ dan merendah hati, bukan dengan kesombongan, kecongkakan, dan bukan pula berjalan layaknya orang mati.
 
Maksud sederhana disini adalah proporsional. Tidak berlebihan, tidak membuang-buang tenaga untuk berlagak dan sombong huga termasuk sederhana, sebab cara berjalan yang menjurus pada tujuan tidak melambat, berlagak, dan sombong, tapi berlalu untuk mencapai tujuan dalam kesederhanaan.
 
Ibnu Katsir bertutur, “Berjalanlah secara sederhana, tidak terlalu lamban dan tidak terlalu cepat, tapi pertengahan antara keduanya.”
Wasiat Kedua Belas: Etika Bertutur Kata
 
Allah berfirman melalui lisan Luqman:
.
“…Dan lunakkanlah suaramu….” (Luqman: 19).
 
Jangan berlebihan dalam bertutur kata, jangan berbicara dengan keras untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya sebagai wujud etika kita terhadap orang dan terhadap Allah. Bersuara lirih mencerminkan etika, kepercayaan diri, ketenangan, dan kekuatan untuk jujur dalam bertutur kata dengan keras selain orang yang tidak sopan, ragu akan bobot kata-katanya sendiri atau nilai kepribadiannya yang berusaha menyembunyikan keraguan ini dengan sungguh-sungguh, keras, dan berteriak.
 
Dengan wasiat ini, berakhirlah wasiat Luqman Al-Hakim, wasiat-wasiat yang sangat berguna. Berkenaan dengan hal itu, Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah wasiat-wasiat yang sangat berguna, termasuk salah satu kisah Al-Qur’an tentang Luqman Al-Hakim.”
 
*Sumber : andcisonline.blogspot.com 
pulsa listrik

News

More on this category

Journal

More on this category
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yayasan Al-Kayis Banten - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger