Headlines News :
handphone-tablet
Tampilkan postingan dengan label keagamaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keagamaan. Tampilkan semua postingan

Kematian Yang Tidak Bisa Dihindari

Written By elkayis on Senin, 27 April 2015 | 22.33


“Seandainya kematian merupakan tempat peristirahatan yang tenang dari seluruh keluh kesah hidup manusia di dunia… niscaya kematian merupakan suatu kabar gembira yang dinanti-natikan bagi setiap insan… Akan tetapi kenyataannya berbeda… setelah kematian itu ada pertanggung jawaban dan ada kehidupan…”

Kematian Adalah Kepastian

Betapa banyak berita kematian yang sampai di telinga kita, mungkin mengkhabarkan bahwa tetangga kita, kerabat kita, saudara kita atau teman kita telah meninggal dunia, menghadap Allah Ta’ala. Akan tetapi betapa sedikit dari diri kita yang mampu mengambil pelajaran dari kenyataan tersebut. Saudaraku, kita tidak memungkiri bahwa datangnya kematian itu adalah pasti. Tidak ada manusia yang hidup abadi. Realita telah membuktikannya. Allah Ta’ala telah berfirman.

“Setiap jiwa pasti akan mengalami kematian, dan kelak pada hari kiamat saja lah balasan atas pahalamu akan disempurnakan, barang siapa yang dijauhkan oleh Allah Ta’ala dari neraka dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam surga, sungguh dia adalah orang yang beruntung (sukses).” (QS. Ali Imran : 185)

Allah Ta’ala juga telah berfirman,
“Katakanlah (wahai Muhammad) sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya pasti akan mendatangi kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang nampak, kemudian Allah Ta’ala akan memberitahukan kepada kalian setiap amalan yang dahulu kalian pernah kerjakan.” (QS. Al Jumu’ah : 8)

Saudaraku, kematian itu milik setiap manusia. Semuanya akan menjumpai kematian pada saatnya. Entah di belahan bumi mana kah manusia itu berada, entah bagaimanapun keadaanya, laki-laki atau perempuan kah, kaya atau miskin kah, tua atau muda kah, semuanya akan mati jika sudah tiba saatnya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan bagi tiap-tiap jiwa sudah ditetapkan waktu (kematiannya), jika telah tiba waktu kematian, tidak akan bisa mereka mengundurkannya ataupun mempercepat, meskipun hanya sesaat” (QS. Al A’raf :34)

Saudaraku, silakan berlindung di tempat manapun, tempat yang sekiranya adalah tempat paling aman menjadi persembunyian. Mungkin kita bisa lari dari kejaran musuh, selamat dari kejaran binatang buas, lolos dari kepungan bencana alam. Namun, kematian itu tetap akan menjemput diri kita, jika Allah Ta’ala sudah menetapkan. Allah Ta’alaberfirman,

“Dan dimanapun kalian berada, niscaya kematian itu akan mendatangi kalian, meskipun kalian berlindung di balik benteng yang sangat kokoh.” (QS. An Nisa : 78)

Kematian Adalah Rahasia Sang Pencipta

Kematian manusia sudah Allah Ta’ala tetapkan atas setiap hamba-Nya sejak awal penciptaan manusia. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya proses penciptaan manusia di dalam perut ibu, berlangsung selama 40 hari dalam bentuk air mani, kemudian menjadi segumpal darah yang menggantung selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging  selama 40 hari juga. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, dan diperintahkan untuk mencatat empat ketetapan : rezekinya, kematiannya, amalannya, dan akhir kehidupannya, menjadi orang bahagia ataukah orang yang celaka….” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Ta’ala telah berfirman,
“Sesungguhnya di sisi Allah sajalah pengetahuan tentang (kapankah) datangnya hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan air hujan, dan Dia lah yang mengetahui tentang apa yang ada di dalam rahim, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan esok hari, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi manakah dia akan mati..” (QS. Luqman : 34)

Saudaraku, jika kita tidak tahu di bumi manakah kita akan mati, di waktu kapan kah kita akan meninggal, dan dengan cara apakah kita akan mengakhiri kehidupan dunia ini, masih kah kita merasa aman dari intaian kematian…? Siapa yang bisa menjamin bahwa kita bisa menghirup segarnya udara pagi esok hari…? Siapa yang bisa menjamin kita bisa tertawa esok hari…? Atau…. siapa tahu sebentar lagi giliran kematian Anda wahai Saudaraku…

Di manakah saudara-saudara kita yang telah meninggal saat ini…? Yang beberapa waktu silam masih sempat tertawa dan bercanda bersama kita… Saat ini mereka sendiri di tengah gelapnya himpitan kuburan… Berbahagialah mereka yang meninggal dengan membawa amalan sholeh… dan sungguh celaka mereka yang meninggal dengan membawa dosa dan kemaksiatan…

Faidah Mengingat Kematian

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan dunia”. Kemudian para shahabat bertanya. “Wahai Rasulullah apakah itu pemutus kelezatan dunia?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kematian” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, hadits dari shahabat Abu Hurairah)

Ad Daqaaq rahimahullahu mengatakan, “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, maka akan dianugerahi oleh Allah tiga keutamaan, [1] bersegera dalam bertaubat, [2] giat dan semangat dalam beribadah kepada Allah, [3] rasaqana’ah dalam hati (menerima setiap pemberian Allah)” (Al Qiyamah Ash Shugra, Syaikh Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar)

Bersegera dalam Bertaubat

Sudah dapat dipastikan bahwa manusia adalah makhluk yang banyak dosa dan kemaksiatan. Seorang manusia yang banyak mengingat kematian, dirinya sadar bahwa kematian senantiasa mengintai. Dia tidak ingin menghadap AllahTa’ala dengan membawa setumpuk dosa yang akan mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Dia akan sesegera mungkin bertaubat atas dosa dan kesalahannya, kembali kepada Allah Ta’ala. Allah telah berfirman,

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan dikarenakan kebodohannya, kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima taubatnya oleh Allah, dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana” (QS. An Nisa : 17)

Maksud dari berbuat keburukan karena kebodohan dalam ayat di atas, bukanlah kebodohan seorang yang tidak mengetahui sama sekali bahwa apa yang dia kerjakan merupakan sebuah keburukan. Orang yang berbuat buruk dan tidak mengetahui sama sekali tidak akan dihukum oleh Allah. Akan tetapi yang dimaksud kebodohan di sini adalah seseorang yang mengetahui bahwa apa yang dia lakukan adalah keburukan, namun dia tetap saja melakukannya lantaran dirinya dikuasai oleh hawa nafsu. Inilah makna kebodohan dalam ayat di atas. (Syarah Qowaidul Arba’ Syaikh Sholeh Fauzan).
Allah Ta’ala berfirman, “Dan bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang telah dipersiapkan (oleh Allah) bagi orang-orang ynag bertaqwa” (QS. Ali Imran : 133)

Giat dan Semangat dalam Beribadah kepada Allah

Seorang yang banyak mengingat kematian, akan senantiasa memanfaatkan waktunya untuk beribadah kepada AllahTa’ala. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Jadilah engkau di dunia ini bagaikan seorang yang asing atau seorang yang sedang menempuh perjalanan yang jauh”,mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, lantas Abdullah ibnu Umar berkata, “Jika engkau berada di sore hari jangan engkau tunggu datangnya pagi hari, jika engkau berada di pagi hari jangan engkau tunggu datangnya sore hari, pergunakanlah waktu sehatmu (dalam ketaatan kepada Allah) sebelum datangnya waktu sakitmu, dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum kematian datang menjemputmu.” (HR. Bukhari)

Rasa Qana’ah di Dalam Hati

Allah Ta’ala akan menanamkan rasa qana’ah di dalam hati seseorang yang banyak mengingat kematian. Rasa qana’ahyang membuat seseorang merasa cukup terhadap setiap pemberian Allah Ta’ala, bagaimanapun dan berapa pun pemberian Allah. Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Dzar. Abu Dzar berkata,
“Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, dan beliau memerintahkan aku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku. …” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Seseorang yang banyak mengingat kematian, meyakini bahwa segala pemberian Allah dari perbendaharaan dunia adalah titipan dari Allah. Seluruhnya akan diambil kembali oleh Allah, dan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta’ala atas seluruh pemberian tersebut. Nas’alullaha al afiyah.

Kehidupan setelah Kematian

“Saudaraku, seandainya kematian merupakan tempat peristirahatan yang tenang dari seluruh keluh kesah hidup manusia di dunia… niscaya kematian merupakan suatu kabar gembira yang dinanti-natikan bagi setiap manusia… Akan tetapi kenyataannya berbeda… setelah kematian itu ada pertanggung jawaban dan ada kehidupan… kehidupan yang sebenarnya…”

Diantara keimanan kepada hari kiamat adalah meyakini bahwa setelah kematian ini ada kehidupan. Semuanya akan berlanjut ke alam kubur kemudian ke alam akhirat. Di sana ada pengadilan Allah Ta’ala yang Maha Adil. Semua manusia akan diadili, mempertanggungjawabkan setiap amalan yang dia perbuat. Allah Ta’ala berfirman,

“Barangsiapa yang berbuat kebaikan meskipun sekecil biji dzarah, niscaya dia akan melihat hasilnya, dan barang siapa yang berbuat keburukan meskipun sekecil biji dzarah, niscaya dia akan melihat akibatnya” (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Terakhir Saudaraku, jadilah orang yang cerdas. Orang yang cerdas dalam memandang hakikat kehidupan di dunia ini. Abdullah Ibnu Umar dia pernah berkata, ‘Aku bersama Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada beliau, kemudian mengucapkan salam kepada beliau, lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’ Dia berkata lagi, ‘Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdas.’” (HR. Ibnu Majah)

Semoga bermanfaat. Allahul Muwaffiq ila Aqwamit Thariq

*Sumber : Daulahislam.com

Membuka Pintu Langit dengan Sabar dan Do'a

Written By elkayis on Sabtu, 25 April 2015 | 17.08

Sahabat, banyak masalah besar yang menurut logika dan kemampuan kita TIDAK MUNGKIN kita mampu menyelesaikannya, tapi ternyata ketika PINTU LANGIT TERBUKA dan ALLAH SWT ' MENGULURKAN TANGANNYA ', maka dalam sekejap masalah itu selesai begitu saja.

Selama kita masih YAKIN akan kekuasaan Allah dan mau melibatkan Tangan Allah SWT dalam berbagai persoalan kehidupan, maka tak ada hal yang mustahil yang tidak mampu kita selesaikan.

Ini adalah kisah nyata, Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa') tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…
Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur'an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku...
Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, "Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??"

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do'aku, "Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa 'Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut'aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…"

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., "Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?". Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, "Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!". Maka aku berkata kepadanya, "Aku ini putrimu Asmaa'". Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : "Subhaanallahu…". Dokter yang lain dari Mesir berkata, "Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…". Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa' akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do'a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo' kecuali do'a…barang siapa yang menjaga syari'at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai 'ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do'a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil 'Aaalamiin (SELESAI…)

          Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah…
          Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus…
          Hiaslah do'amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci
          Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya…

(sumber : http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html , Diterjemahkan oleh Firanda Andirja)

*sumber : firanda.com

Sekilas Tentang Bulan Rajab

Written By elkayis on Rabu, 22 April 2015 | 18.15


Alhamdulillah, tak terasa kita sudah memasuki bulan Rajab yang merupakan salah satu dari empat “ al-asyhuril hurum “ (bulan-bulan mulia), dimana dibulan-bulan ini kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah yang dicontohkan nabi kita Muhammad – shallallahu ‘alaihi wasallam - karena pahalanya akan dilipat gandakan, juga diperintahkan untuk meninggalkan peperangan ( genjatan senjata ) sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan-bulan mulia ini ; dan sebagaimana dilipat gandakannya pahala maka dosa-pun dilipat gandakan bagi yang berma’shiat ataupun melakukan amalan-amalan yang tidak ada dasarnya –wal’iyaadzu billah-.

Ke-empat bulan mulia tersebut yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. sebagaimana sabda nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam-:
عن أبي بكرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ” إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات: ذو القعدة، وذو الحجة، والمحرم، ورجب شهر مضر الذي بين جمادى وشعبان “( رواه البخاري 6/83, ومسلم 1/1305 )

Dari Abi bakrah, dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda: “Sesungguhnya masa itu telah berputar sebagaimana keadaannya disaat Allah menciptakan langit dan bumi, satu tahun itu ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan mulia, tiga bulan diantaranya berturut-turut yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar* yaitu antara Jumad dan Sya’ban. (HR.Bukhari 6/83, Muslim 1/1305).

Pendapat para ulama tentang dilipat gandakan-nya pahala dan dosa di bulan-bulan mulia ini berdasarkan firman Allah ta’ala:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram, itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri pada bulan-bulan tersebut.” (QS. At-taubah:36)

Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- menafsirkan bahwa dhomir “فيهن” dalam firman Allah “فلا تظلموا فيهن أنفسكم” itu kembali pada empat bulan haram, karena pada empat bulan tersebut dosa-dosa dilipat gandakan. (jadi arti bebasnya kurang lebih: maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri pada empat bulan haram tersebut.pen).

Kemudian beliau menukil perkataan Qotadah –radhiallahu ‘anhu-:”sesungguhnya kedzaliman yang dilakukan pada bulan haram lebih besar dosanya dibanding kedzoliman yang dilakukan pada bulan-bulan selainnya, walaupun kedzoliman itu perkara yang besar dalam setiap keadaan akan tetapi Allah membesarkan sesuatu (di waktu-waktu tertentu) sebagaimana yang Dia kehendaki”.

Dan beliau juga menyebutkan perkataan Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas (radhiallahu ‘anhuma) bahwa dhamir tersebut kembali pada semua bulan (dua belas bulan) kemudian dikhususkan empat bulan mulia dari dua belas bulan tersebut, dan Allah agungkan kemuliaannya dengan dijadikan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan tersebut berlipat ganda sebagaimana dilipat gandakan pula pahala amal shaleh.(jadi artinya kurang lebih: maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri pada dua belas bulan tersebut, terutama pada empat bulan haram itu.pen) (lihat: tafsir ibnu katsir 4/148)

Semua keutamaan tersebut umum untuk empat bulan mulia yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram & Rajab.

Adapun mengenai fenomena yang terjadi di masyarakat kita dengan mengkhususkan amalan-amalan tertentu hanya di bulan Rajab, diantaranya:

1- Do’a Masuk Bulan Rajab
عن أنس بن مالك، رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل رجب قال: «اللهم بارك لنا في رجب وشعبان، وبلغنا رمضان»
Artinya: “dari Anas bin Malik –radhiallahu ‘anhu- bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk bulan Rajab beliau berdo’a:”ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab & Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”. (HR.At-Thabrani 1/284).
Do’a ini sangat populer di masyarakat kita, akan tetapi bagaimanakah kedudukan hadits tersebut menurut para ulama hadits?
  • Menurut imam Adz-Dzahabi –rahimahullah-: “dalam sanadnya terdapat Zaidah bin Abirraqqad dan Ziyad An-Namiri, kedua-duanya dhaif”. (Mizanul I’tidal 2/65 ).
  • Menurut imam Ibnu Hajar Al-‘Asqolani –rahimahullah-:”hadits ini dha’if, dan ada isnad yang lain zahirnya kelihatan shahih tapi sebenarnya maudhu’ buatan Abi Barakat”.(Tabyiinul ‘Ajab:19).
  • Menurut syaikh Al-Albani –rahimahullah-:”lemah”. (Dha’iful Jami’: 4/395).
  • Menurut imam An-Nawawi –rahimahullah-: “isnadnya lemah”.(al-Adzkar: 245). 
 2- Mengkhususkan Puasa di Bulan Rajab

- Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata:
“وأما صوم رجب بخصوصه، فأحاديثه كلها ضعيفة، بل موضوعة، لا يعتمد أهل العلم على شيء منها، وليست من الضعيف الذي يروى في الفضائل، بل عامتها من الموضوعات المكذوبات…”
“Adapun shaum khusus di bulan Rajab semua hadis-haditsnya lemah bahkan palsu, tidak dijadikan landasan oleh ahli ‘ilmu, dan tidak termasuk hadits dhaif yang boleh diriwayatkan dalam masalah fadhilah-fadhilah amal. bahkan semuanya termasuk hadits-hadits yang palsu dan dusta…”(Al-Fataawalkubra 2/478).

3- Merayakan Isra’ & Mi’raj
Imam Ibnul-Qayyim –rahimahullah dalam kitabnya “Zaadul ma’aad” menukil jawaban syaikhul islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- ketika ditanya tentang keutamaan malam Isra & Mi’raj:
“لم يقم دليل معلوم لا على شهرها ولا على عشرها ولا على عينها، بل النقول في ذلك منقطعة مختلفة ليس فيها ما يقطع به…”
“tidak ada dalil yang menyebutkan (keutamaan) bulan tersebut, dan tidak ada juga (dalil yang menyebutkan keutamaan) sepuluh hari di bulan tersebut, bahkan tidak ada juga (dalil yang menyebutkan keutamaan) malam isra’ itu sendiri; akan tetapi penukilan-penukilan tersebut terputus & berbeda-beda tidak ada dalil yang qoth’i tentang hal itu…”(Zaadul ma’aad 1/58).

4- Mengkhususkan Bulan Rajab Dengan I’tikaf
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
“أما تخصيص رجب وشعبان جميعا بالصوم أو الاعتكاف فلم يرد فيه عن النبي صلى الله عليه وسلم شيء ولا عن أصحابه. ولا أئمة المسلمين…”
“adapun mengkhususkan bulan Rajab & Sya’ban dengan shaum atau I’tikaf, maka hal tersebut sama sekali tidak ada sumbernya dari nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak juga bersumber dari para shahabatnya ataupun dari aimmatul muslimin…”(Majmu’ul Fatawa 25/290).
Itulah di antara amalan-amalan yang populer dilaksanakan oleh sebagian masyarakat dibulan Rajab, padahal tidak ada dalil yang mengkhususkan keutamaan-keutamaan tersebut selain keutamaan empat bulan mulia yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram & Rajab tanpa mengutamakan salah satu dari bulan-bulan tersebut.
Mudah-mudahan kita tidak mudah terkecoh atau tertipu dengan perkataan orang-orang mengenai hal ini, karena landasan kita dalam menerima kebenaran ialah adanya dalil shahih.
Adapun kalau kita melaksanakan ibadah-ibadah sunnah baik itu Shaum Daud, Shaum Senin Kamis, Shaum Ayyamul Biidh, atau melaksanakan I’tikaf, ’umroh, dll tanpa meyakini kekhususan ibadah tersebut di bulan Rajab, atau kita terbiasa melaksanakan ibadah-ibadah tersebut di setiap bulan maka lanjutkanlah. Wallahu a’lam.
Inilah goresan ringkas tentang bulan Rajab, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat buat kami dan para pembaca.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم, والله تعالى أعلم
Ket: *Rajab Mudhar: dinisbahkan kepada qabilah Mudhar karena qabilah Mudhar mengagungkan bulan ini.

Makkah Almukarramah, 1 Rajab 1434 H
Ditulis oleh: Ummu Nawwaf Yusfiani

 *Sumber : cahayaummulquro.com

Ketika Anda Harus Cemburu

Written By elkayis on Rabu, 08 April 2015 | 17.11



Hukum asalnya, sifat iri dan cemburu terhadap kelebihan orang lain dalam Islam tidak diperbolehkan. Karena sifat ini mengandung prasangka buruk kepada Allah dan tidak ridha dengan pembagian yang Allah berikan kepada makhluk-Nya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammengecualikan beberapa orang yang boleh dan pantas untuk dicemburui karena kelebihan besar yang mereka miliki. Siapakah mereka? Temukan jawabannya dalam hadits berikut ini,

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ
“Tidak ada (sifat) iri (yang terpuji) kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur-an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur-an)nya dan berkata: “Duhai kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur-an) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan seperti (membaca al-Qur-an) seperti yang diamalkannya. Dan seorang yang dilimpahkan oleh Allah baginya harta (yang berlimpah) kemudian dia membelanjakannya di (jalan) yang benar, lalu ada orang lain yang berkata: “Duhai kiranya aku diberi (kelebihan harta) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (bersedekah di jalan Allah) seperti yang diamalkannya” (HR. Al-Bukhari).
Maksud “iri/cemburu” dalam hadits ini adalah iri yang benar dan tidak tercela, yaitu al-gibthah, yang artinya menginginkan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain tanpa mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang tersebut1.
Coba perhatikan dan renungkan hadits ini dengan seksama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dua golongan manusia yang pantas untuk di cemburui, yaitu orang yang memahami al-Qur’an dan mengamalkannya serta orang yang memiliki harta dan menginfakkannya di jalan Allah.
Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan sebab yang menjadikan mereka pantas untuk dicemburui, bukan karena kelebihan dunia semata yang mereka miliki, tapi karena mereka mampu untuk menundukkan hawa nafsu yang mencintai dunia secara berlebihan, sehingga harta yang mereka miliki tidak menghalangi mereka untuk meraih keutamaan tinggi di sisi Allah.
Inilah kelebihan sejati yang pantas dicemburui, adapun kelebihan harta atau kedudukan duniawi semata maka ini sangat tidak pantas untuk dicemburui, karena ini hakikatnya bukan merupakan kelebihan tapi celaan dan fitnah bagi manusia, sebagaimana sabda Rasulullah s shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta”2.
Oleh karena itu, cemburu dan iri hanya karena kelebihan harta yang dimiliki seseorang tanpa melihat bagaimana penggunaan harta tersebut, ini adalah sifat yang sangat tercela. Allah berfirman tentang orang-orang yang iri melihat harta kekayaan Qarun:
{فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ. وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ. فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ. وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ}
“Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan perhiasannya (harta bendanya). Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata: “Duhai kiranya kami mempunyai harta kekayaan seperti yang diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar memiliki keberuntungan yang besar. Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata: “Celakalah kalian! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar. Maka kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang (mampu) menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri. Dan jadilah orang-orang yang kemarin mengangan-angankan kedudkan (harta benda) Qarun itu berkata: “Aduhai, benarlah kiranya Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan membatasi (bagi siapa yang Dia dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya). Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)” (QS. Al Qashash: 79-92)
Adapun contoh sikap cemburu yang benar adalah sikap cemburu dalam kebaikan yang ditunjukkan oleh orang-orang yang sempurna iman mereka, para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut:
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dia berkata: Orang-orang miskin (dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah datang menemui beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, orang-orang (kaya) yang memiliki harta yang berlimpah bisa mendapatkan pahala (dari harta mereka), kedudukan yang tinggi (di sisi Allah Ta’ala) dan kenikmatan yang abadi (di surga), karena mereka melaksanakan shalat seperti kami melaksanakan shalat dan mereka juga berpuasa seperti kami berpuasa, tapi mereka memiliki kelebihan harta yang mereka gunakan untuk menunaikan ibadah haji, umrah, jihad dan sedekah, sedangkan kami tidak memiliki harta…”. Dalam riwayat Imam Muslim, di akhir hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah kerunia (dari) Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya“3.
Imam Ibnu Hajar berkata: “Dalam hadits ini (terdapat dalil yang menunjukkan) lebih utamanya orang kaya yang menunaikan hak-hak (Allah Ta’ala) pada (harta) kekayaannya dibandingkan orang miskin, karena berinfak di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits di atas) hanya bisa dilakukan oleh orang kaya”4.
Kesimpulannya, termasuk orang yang pantas dicemburui, bahkan kecemburuan tersebut dipuji dalam Islam adalah orang yang memiliki kelebihan dalam harta tapi dia selalu menginfakkan hartanya di jalan Allah. Karena kecemburuan ini dapat menjadi motivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan yang diperintahkan dalam agama. Allah berfirman:
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan” (QS al-Baqarah: 148).
Jadi cemburu dan iri kepada kelebihan harta yang dimiliki seseorang bukan karena kelebihan harta yang dimilikinya semata-mata, akan tetapi karena motivasi kebaikan besar yang dimilikinya dengan banyak membelanjakan hartanya di jalan Allah. Inilah sebaik-baik harta yang dimiliki oleh orang yang beriman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sebaik-baik harta yang shaleh (penuh berkah) adalah untuk hamba yang shaleh”.
Adapun sifat rakus dan ambisi berlebihan terhadap harta tanpa mempertimbangkan keberkahan dan manfaatnya dalam meraih keridhaan Allah maka ini perbuatan tercela dan sebab yang akan merusak keimanan seorang hamba, serta menjadikannya jauh dari segala kebaikan dunia dan akhirat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)”5.
Semoga Allah meudahkan kita untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaatan kepada-Nya.
 *Sumber : daulahislam.com

Qiyamul Lail, Bekal Seorang Mujahid

Written By elkayis on Rabu, 18 Maret 2015 | 17.39

Mata yang mengantuk mungkin dapat diobati dengan tidur. Namun hati yang resah, gelisah dan banyak masalah, tidak dapat diobati, kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Orang-orang shalih hatinya merindu untuk selalu bersama Allah. Seperti orang yang jatuh cinta, selalu terbayang wajah sang kekasih. Kerinduannya yang mendalam membetot dirinya masuk ke dalam lingkaran ibadah dan munajat yang hampir tidak terputus. Mereka sedikit sekali tidur. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُ‌وا بِهَا خَرُّ‌وا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَ‌بِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُ‌ونَ
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَ‌بَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَ‌زَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ 

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabb-nya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang Kami berikan.” (QS. as-Sajdah: 15-16).

Kata tatajaafa (jauh) berasal dari kata jafwah yang mengandung arti bahwa lambung mereka tidak menyukai tempat tidur. Mereka tidak tahan jika berada di tempat tidur. Karena, kerinduan kepada Allah Ta’ala menyebabkan mereka resah dan tidak tenang, di mana keresahan dan ketidaktenangan itu hanya dapat dihilangkan dengan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan berada di hadapan-Nya.
Di saat orang lain terlelap tidur, dia menangisi dosa-dosanya, meratap penuh belas kasihan akan ampunan dan rahmat Tuhannya. Berdiri shalat, membaca al-Quran dengan khusyu dan berdzikir dalam keheningan malam. Matanya sembab. Hatinya gerimis. Ia berusaha menahan tangis karena takut ada orang yang mendengarnya, tapi tidak bisa! Ia begitu takut sekaligus mencintai-Nya. Tangisannya meledak seperti halnya bendungan air yang jebol maka keluarlah air dengan deras. Suaranya tidak bisa lagi ditahan. Suaranya terdengar bukan lagi karena ingin mengharapkan pujian, tapi benar-benar larut dengan perasaan yang mendalam. Hanyut dalam air sungai mahabbah dan muhasabah.

Qiyamul lail adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kita. Ia merupakan perdagangan bagi orang-orang yang beriman yang tidak akan merugi. Pada qiyamul lail, seorang mukmin menyepi dengan Allah ta’ala di malam hari. Ia hadapkan wajahnya kepada pencipta alam semesta untuk diadukan seluruh persoalannya baik dunia dan akhirat.

Sungguh tidak pantas bagi kita untuk mengadukan berbagai permasalahan hidup kepada manusia, sementara kita tidak pernah mengadukannya kepada Allah ta’ala. Kesempitan rizki kita, jodoh yang tak kunjung datang, momongan yang tak kunjung diberi dan permasalahan-permasalahan lainnya. Padahal Allah ta’ala senang jika hambanya mengadukan seluruh permasalahan kepada-Nya. Ia pasti mengabulkan do’a seorang hamba, apa lagi dilakukan setelah tahajjud pada sepertiga malam akhir. Rasulullah SAW bersabda;

إِنَّ فِى اللَّيْلِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya.” (HR. Muslim no. 757)

Bahkan di sepertiga malam akhir, Allah ta’ala turun ke langit dunia untuk mendengarkan do’a hamba-hambanya yang mau tahajjud. Rasulullallah SAW sebutkan dalam hadist;

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’.” (HR. Bukhari no. 6321 dan Muslim no. 758).

Rasululah SAW melatih sahabat untuk qiyamullail

Jika kita meneliti kembali kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat, akan kita dapatkan bahwa mereka adalah sebuah generasi yang tidak pernah meninggalkan qiyamullail. Bahkan beliau mengawasi dan memberi semangat para sahabatnya untuk melakukan hal tersebut. Tak hanya itu, beliau juga memerintahkan para suami ataupun istri untuk melakukan qiyamullail walaupun harus memercikkan air ke mukanya.
Diantara hadis yang menjelaskan hal tersebut adalah :

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya;”Rasulullah SAW bersabda;
يَا عَبْدَ اللهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
“Hai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si Fulan itu, dulu ia suka sekali bangun shalat di waktu malam, tetapi kini meninggalkan bangun shalat waktu malam.” (Muttafaqun ‘alaih).

Bahkan beliau memerintahkan untuk membangunkan istrinya dalam rangka melaksanakan qiyamullail.

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ
Dari Abu Hurairah juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati seorang pria yang bangun malam kemudian dia shalat dan membangunkan istrinya juga untuk shalat. Jika istrinya enggan bangun, dia memerciki air ke wajah istrinya. Semoga Allah juga merahmati seorang wanita yang bangun malam kemudian dia shalat dan membangunkan suaminya juga untuk shalat. Jika suaminya enggan bangun, dia memerciki air di wajah suaminya.”(HR. Abu Daud no. 1308, An Nasa’i no. 1610, dan Ibnu Majah no. 1336. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if At Targib wa At Tarhib no. 625 mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Sudah seharusnya para ihwan selalu membangunkan saudaranya untuk bersama-sama melakukan qiyamullail walaupun lewat HP. Apalagi jika dia sebagai seorang ustadz memiliki tanggung jawab untuk membentuk generasi tangguh, tidak mungkin didapatkan tanpa qiyamullail. Kita bisa melatih qiyamullail dengan acara-acara bersama seperti mabit dan yang lainnya.

Qiyamul lail bekal wajib bagi juru dakwah

Kita banyak saksikan para da’i dan aktivis yang meninggalkan kebiasaan qiyamul lail. Mampukah mereka menyeimbangkan antara kegiatan fisiknya dengan ruhiyahnya? Dan jika keseimbangan tidak mereka jalani, kefuturan akan menimpanya. Sudah banyak para aktivis yang gugur di tengah jalan karena tidak menjaga ruhiyah dan qiyamul lail mereka.

Jika qiyamullail saja sangat dibutuhkan oleh setiap muslim, bahkan menjadi tren hari ini untuk mendapatkan kesuksesan duniawi, lebih lagi para aktivis yang telah menghabiskan waktunya dalam berdakwah pada ummat serta amar ma’ruf nahyu munkar.

Seorang hamba tidak akan mampu menghadapi syirik dan para pelakunya, dan tidak akan kuat untuk bara’ dan bersikap oposisi dari mereka serta menampakkan permusuhan terhadap kebatilan mereka kecuali beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ibadah. Sungguh Allah Subhanahu Wa Ta‘ala telah memerintahkan Nabi-Nya Muhammad SAW untuk membaca Al-Qur’an dan qiyamullail di Makkah. Dan Dia memberitahukan kepadanya bahwa hal itu adalah bekal yang membantunya untuk memikul beban dakwah yang amat berat, dan perintah itu sebelum firman-Nya:

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلاً ثَقِيلاً
Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. (Al Muzammil,73:5)

dimana Dia berfirman :
يَآأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ. قُمِ الَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً. نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً. أَوْزِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلاً.

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (Al Muzammil, 73: 1-4)

Maka beliau SAW dan para sahabatnya melakukan qiyamullail sampai kaki-kaki mereka bengkak. Hingga Allah Subhanahu Wa Taala menurunkan keringanan di akhir ayat (surat ini). Sesungguhnya qiyamullail dengan membaca ayat-ayat Allah ‘Azza wa Jalla dan mentadabburi Firman-Nya adalah bekal terbaik dan yang membantu si da’i. Qiyamul lail meneguhkan dan membantunya untuk menghadapi tantangan dan liku-liku dakwah.

Dan sesungguhnya orang-orang yang mengira bahwa dirinya mampu memikul dakwah yang agung ini dengan beban-bebannya yang berat tanpa memurnikan seluruh ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan tanpa memanjangkan dzikir dan tasbih-Nya sungguh mereka sangat keliru dan terlalu mengkhayal. Meskipun mereka telah berjalan beberapa langkah ke depan, namun mereka tak akan mampu melanjutkan perjalanan yang benar lagi lurus tanpa bekal. Sedangkan sebaik-baiknya bekal adalah taqwa. Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah mensifati para pembawa dakwah ini, dan Dia telah memerintahkan Nabi-Nya SAW untuk bersabar bersama mereka.

Mereka itu selalu menyeru Rab-nya di waktu pagi dan petang seraya mengharapkan wajah-Nya. Dan mereka itu sedikit tidur di malam hari. Badan mereka jauh dari tempat pembaringan seraya menyeru Rab-nya dengan penuh rasa takut dan pengharapan. Mereka merasa takut terhadap Rab-nya di suatu hari yang kelam nan mencekam, serta sifat-sifat lainnya yang mana tidak layak untuk mengemban dakwah ini dan memikul berbagai bebannya kecuali orang yang memiliki sifat-sifat ini. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala menjadikan kita bagian dari mereka.

Demikian khutbah jum’ah yang kami sampaikan. Jika ada benarnya datangnya dari Allah, dan jika ada salahnya datangnya dari diri saya sendiri. Kita berdo’a semoga Allah menjadikan kita termasuk diantara hamba-ahambanya yang mudah untuk melaksanakan qiyamul lail.

*Sumber : An-najah.net

Harta Kita Yang Sesungguhnya

Written By elkayis on Selasa, 17 Maret 2015 | 07.46

Ketika ditanya harta ini milik siapa? Sering kita segera mengakuinya menjadi milik kita. Dan alangkah bangganya memiliki sesuatu disaat banyak yang tidak memilikinya. Alangkah "wah"nya memakai sesuatu yang tidak semua orang mampu memakainya.

Pada Rasul kita menjelaskan (dan sebaik-baik penjelasan adalah penjelasannya). Sungguh yang benar-benar menjadi milik kita yang sesungguhnya adalah :

1. Yang kita makan, dan akhirnya sirna.

Yang belum dimakan dikulkas belum menjadi milik kita. Yang belum dimakan dilemari belum milik kita. Yang belum dimakan digudang juga belum milik kita. Makanan yang masih ada ditoko dan pabrik serta perusahaan juga belum milik kita. Yang belum dimakan dan masih berupa uang ditabungan dan di investasi pun belum menjadi milik kita.
Tapi, yang benar-benar sudah dimakan inilah yang menjadi bagian harta kita. Itupun hanya sebatas kerongkongan nikmat itu terasa, setelah itu akan menjadi sirna dan bau adanya.

2. Yang kita pakai, dan akan usang dimakan usia.

Sandal yang tidak dipakai dirak belum menjadi harta kita. Baju yang tidak dipakai dilemari belum menjadi harta kita. Motor dan mobil yang tidak dipakai digarasi belum menjadi harta kita. Rumah, ruko, dan hotel yang tidak dipakai di investasi juga belum menjadi harta kita. Tanah, sawah, dan kapling yang tidak dipakai sebagai aset kita, belum menjadi harta kita. Sarana yang belum terpakai ditoko, pabrik, dan perusahaan pun belum menjadi milik kita. Dan kekayaan sebanyak apapun yang belum dan tidak terpakai maka belum menjadi harta kita.
Sedang yang sudah menjadi harta kita dengan memakainya, itupun akan usang, kumal, dan kadaluwarsa juga akhirnya dimakan usia.

3. Yang kita sedekahkan, dan akan terus menjadi milik kita.

Sandal, sepatu, dan baju yang disedekahkan yang akan terus menjadi milik kita. Motor yang disedekahkan yang akan terus menjadi motor kita. Mobil yang disedekahkan yang akan terus menjadi mobil kita. Rumah dan tanah yang disedekahkan yang akan terus menjadi milik kita. Uang yang disedekahkan yang akan terus menjadi uang kita.
Kekayaan  yang akan mendatangkan pahala yang akan terus menjadi harta kekayaan kita. Kepemilikan harta yang akan mendatangkan rasa syukur kepada Allah yang akan terus menjadi kepemilikan kita.

Rasulullah bersabda, "Berkata manusia, "ini hartaku.......", padahal yang benar-benar hartanya hanyalah 3 :
1. Yang ia makan dan akan sirna.
2. Yang ia pakai dan akan usang dimakan usia.
3. Dan yang ia sedekahkan yang akan terus menjadi miliknya." (HR. Tirmidzi)
Kamu akan menjadi milik hartamu karena kamu menahannya, dan hartamu akan menjadi milikmu karena kamu menginfaqkannya....

Hari Jum'at, ingat surat Al-kahfi !!

Written By elkayis on Rabu, 25 Februari 2015 | 23.22




Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas segala nikmat yang telah Ia anugerahkan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Hari Jum’at merupakan hari yang mulia. Bukti kemuliaannya, Allah mentakdirkan beberapa kejadian besar pada hari tersebut. Dan juga ada beberapa amal ibadah yang dikhususkan pada malam dan siang harinya, khususnya pelaksanaan shalat Jum’at berikut amal-amal yang mengiringinya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ....
"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk...." (HR. Abu Dawud, an Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dari hadits Aus bin Aus)

Amal Khusus di Hari Jum'at

Pada dasarnya, tidak dibolehkan menghususkan ibadah tertentu pada malam Jum’at dan siang harinya, berupa shalat, tilawah, puasa dan amal lainnya yang tidak biasa dikerjakan pada hari-hari selainnya. Kecuali, ada dalil khusus yang memerintahkannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda;

لَا تَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي ، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ ، إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ
“Janganlah menghususkan malam Jum’at untuk mengerjakan shalat dari malam-malam lainnya, dan janganlah menghususkan siang hari Jum’at untuk mengerjakan puasa dari hari-hari lainnya, kecuali bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang kalian.” (HR. Muslim, al-Nasai, al-Baihaqi, dan Ahmad)

Membaca Surat Al-Kahfi

Salah satu amal ibadah khusus yang diistimewakan pelakasanaannya pada hari Jum’at adalah membaca surat Al-Kahfi. Berikut ini kami sebutkan beberapa dalil shahih yang menyebutkan perintah tersebut dan keutamaannya.

1. Dari Abu Sa'id al-Khudri radliyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ
"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul 'atiq." (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)

2. Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, 

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَضَآءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ
"Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum'at." (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)

3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ سَطَعَ لَهُ نُوْرٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيْءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ
“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.”
Al-Mundziri berkata: hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Mardawaih dalam tafsirnya dengan isnad yang tidak apa-apa. (Dari kitab at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298)”

Kapan Membacanya?

Sunnah membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada hari Jum’atnya. Dan malam Jum’at diawali sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis. Kesempatan ini berakhir sampai terbenamnya matahari pada hari Jum’atnya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kesempatan membaca surat Al-Kahfi adalah sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis sore sampai terbenamnya matahari pada hari Jum’at.

Imam Al-Syafi'i rahimahullah dalam Al-Umm menyatakan bahwa membaca surat al-Kahfi bisa dilakukan pada malam Jum'at dan siangnya berdasarkan riwayat tentangnya. (Al-Umm, Imam al-Syafi'i: 1/237).

Mengenai hal ini, al-Hafidzh Ibnul Hajar rahimahullaah mengungkapkan dalam Amali-nya: Demikian riwayat-riwayat yang ada menggunakan kata “hari” atau “malam” Jum’at. Maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud “hari” temasuk malamnya. Demikian pula sebaliknya, “malam” adalah malam jum’at dan siangnya. (Lihat: Faidh al-Qadir: 6/199).

DR Muhammad Bakar Isma’il dalam Al-Fiqh al Wadhih min al Kitab wa al Sunnah menyebutkan bahwa di antara amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan pada malam dan hari Jum’at adalah membaca surat al-Kahfi berdasarkan hadits di atas. (Al-Fiqhul Wadhih minal Kitab was Sunnah, hal 241).

Kesempatan membaca surat Al-Kahfi adalah sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis sore sampai terbenamnya matahari pada hari Jum’at.

Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jum’at

Dari beberapa riwayat di atas, bahwa ganjaran yang disiapkan bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada siang harinya akan diberikan cahaya (disinari). Dan cahaya ini diberikan pada hari kiamat, yang memanjang dari bawah kedua telapak kakinya sampai ke langit. Dan hal ini menunjukkan panjangnya jarak cahaya yang diberikan kepadanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
“Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. Al-Hadid: 12)

Balasan kedua bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at berupa ampunan dosa antara dua Jum’at. Dan boleh jadi inilah maksud dari disinari di antara dua Jum’at. Karena nurr (cahaya) ketaatan akan menghapuskan kegelapan maksiat, seperti firman Allah Ta’ala:

إن الحسنات يُذْهِبْن السيئات
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Huud: 114)

Surat Al-Kahfi dan Fitnah Dajjal

Manfaat lain surat Al-Kahfi yang telah dijelaskan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah untuk menangkal fitnah Dajjal. Yaitu dengan membaca dan menghafal beberapa ayat dari surat Al-Kahfi. Sebagian riwayat menerangkan sepuluh yang pertama, sebagian keterangan lagi sepuluh ayat terakhir.

Imam Muslim meriwayatkan dari hadits al-Nawas bin Sam’an yang cukup panjang, yang di dalam riwayat tersebut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,  “Maka barangsiapa di antara kamu yang mendapatinya (mendapati zaman Dajjal) hendaknya ia membacakan atasnya ayat-ayat permulaan surat al-Kahfi.”

Dalam riwayat Muslim yang lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari permulaan surat al-Kahfi, maka ia dilindungi dari Dajjal.” Yakni dari huru-haranya.

Imam Muslim berkata, Syu’bah berkata, “Dari bagian akhir surat al-Kahfi.” Dan Hammam berkata, “Dari permulaan surat al-Kahfi.” (Shahih Muslim, Kitab Shalah al-Mufassirin, Bab; Fadhlu Surah al-Kahfi wa Aayah al-Kursi: 6/92-93)

Imam Nawawi berkata, “Sebabnya, karena pada awal-awal surat al-Kahfi itu tedapat/ berisi keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kebesaran Allah. Maka orang yang merenungkan tidak akan tertipu dengan fitnah Dajjal. Demikian juga pada akhirnya, yaitu firman Allah:

أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ
“Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? . . .” QS. Al-Kahfi: 102. (Lihat Syarah Muslim milik Imam Nawawi: 6/93)

Penutup

Dari penjelasan-penjelasan di atas, sudah sepantasnya bagi setiap muslim untuk memiliki kemauan keras untuk membaca surat Al-Kahfi dan menghafalnya serta mengulang-ulangnya. Khususnya pada hari yang paling baik dan mulia, yaitu hari Jum’at. Wallahu Ta’aala a’lam.

*sumber : voa-islam.com
pulsa listrik

News

More on this category

Journal

More on this category
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yayasan Al-Kayis Banten - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger